MEDIASULUT.ID – Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan percepatan transisi energi nasional melalui optimalisasi energi baru terbarukan (EBT) dan diversifikasi sumber minyak mentah untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Arahan tersebut muncul sebagai respons atas dinamika geopolitik global yang terus berubah serta kebutuhan menjaga stabilitas pasokan energi dalam negeri, sejalan dengan langkah pemerintah menjaga stabilitas sektor strategis nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan hal itu usai menghadiri panggilan Presiden di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (12 Maret 2026). Dalam keterangannya, ia menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat implementasi kebijakan energi melalui penguatan Satuan Tugas Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE).
Pemerintah Percepat Pemanfaatan EBT dan Dekarbonisasi
Fokus percepatan energi bersih kini mengarah ke sektor kelistrikan nasional. Bahlil menegaskan bahwa konversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) menjadi prioritas utama dalam strategi energi nasional.
“Pemerintah menyiapkan langkah bertahap untuk mengganti PLTD di berbagai wilayah Indonesia,” ujar Bahlil.
Langkah tersebut menekan emisi karbon sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Kebijakan ini juga membantu menurunkan beban subsidi energi agar anggaran negara tetap sehat.
Data terbaru menunjukkan bahwa bauran energi terbarukan Indonesia hingga 2025 baru mencapai sekitar 15,75 persen. Angka tersebut mendorong percepatan kebijakan agar transformasi energi berjalan lebih agresif.
Di sisi fiskal, kebijakan energi tetap menjaga keseimbangan ekonomi nasional, sejalan dengan penguatan kebijakan ekonomi nasional yang menempatkan sektor energi sebagai bagian penting industri strategis.
Potensi Besar Energi Terbarukan Masih Belum Optimal
Indonesia memiliki potensi energi terbarukan lebih dari 3.600 gigawatt yang berasal dari tenaga surya, air, panas bumi, dan bioenergi. Besarnya potensi tersebut belum mencapai tingkat pemanfaatan optimal.
Saat ini, sistem energi nasional masih bergantung pada batu bara dan energi fosil sebagai sumber utama pembangkit listrik. Kondisi tersebut menjadi tantangan utama dalam proses transisi menuju energi bersih.
“Transisi energi bukan pilihan, tetapi kebutuhan untuk menjaga keberlanjutan ekonomi nasional,” tegas Bahlil.
Dorongan percepatan pembangunan infrastruktur energi bersih terus meningkat agar pemanfaatan EBT tumbuh signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Diversifikasi Minyak Jadi Strategi Hadapi Geopolitik
Selain fokus pada energi bersih, perhatian pemerintah juga tertuju pada stabilitas pasokan minyak mentah nasional. Presiden Prabowo mengarahkan pengurangan ketergantungan pada satu kawasan pemasok energi.
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah mendorong pemerintah memperluas sumber impor minyak mentah ke berbagai negara lain. Langkah ini menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
“Kami mencari opsi terbaik yang mengedepankan kepentingan nasional. Diversifikasi ini menjaga stabilitas pasokan energi di tengah dinamika global,” ujar Bahlil.
Upaya tersebut memperkuat visi besar pemerintah dalam membangun kemandirian nasional, termasuk penguatan kemandirian energi nasional sebagai fondasi transformasi ekonomi jangka panjang.
Strategi Jangka Panjang Menuju Kemandirian Energi
Pemerintah menyiapkan strategi jangka panjang untuk memastikan keberhasilan transisi energi nasional. Arah pembangunan energi kini fokus pada sistem yang lebih berkelanjutan dan efisien.
Pemerintah menargetkan pengurangan penggunaan energi fosil secara bertahap dalam satu hingga dua dekade ke depan. Pemerintah juga memperluas pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan sebagai fondasi sistem energi masa depan.
“Kami memastikan transisi energi berjalan tanpa mengganggu tarif listrik dan daya beli masyarakat,” ujar Bahlil.
Data Singkat Arahan Presiden
Transisi energi dan ketahanan pasokan minyak menjadi fokus utama kebijakan pemerintah. Konversi PLTD ke pembangkit berbasis EBT berjalan secara bertahap. Diversifikasi sumber minyak mentah mengurangi risiko geopolitik.
Komitmen terhadap transformasi energi nasional terus menguat agar Indonesia mencapai kemandirian energi sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional. (Sumber: BPMI Setpres)
