MEDIASULUT.ID – Gambar di atas bercerita banyak. Seorang pria paruh baya dengan gitar di tangan, membelakangi gerbang sekolah.
Di pundaknya ada tas kulit tua yang sarat beban. Ini bukan sekadar ilustrasi, melainkan sebuah potret sosiologis yang masih sering kita temui di sudut-sudut Bumi Nyiur Melambai.
​Sebut saja ia representasi dari ribuan guru honorer di Sulawesi Utara.
Mereka yang tetap memilih berdiri di depan kelas, meski honor yang diterima terkadang habis hanya untuk ongkos transportasi menuju sekolah.
​
​Gaya hidup guru honorer adalah simfoni ketabahan. Dahlan Iskan mungkin akan menulis: Mereka bukan orang kaya, tapi mereka memperkaya jiwa anak bangsa.
​Faktanya, di banyak wilayah di Sulawesi Utara, mulai dari perkotaan hingga pelosok Minahasa, guru honorer masih menjadi tulang punggung pendidikan.
Di tengah keterbatasan jumlah PNS, merekalah yang mengisi kekosongan di kelas-kelas.
​Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, kreativitas menjadi kunci. Seperti pada gambar, tak sedikit yang memiliki “sisi lain” usai jam sekolah usai.
Ada yang menjadi pengamen berbakat, berkebun, hingga menekuni usaha UMKM. Ini adalah bukti nyata bahwa guru di daerah kita memiliki daya tahan mental yang luar biasa.
​Kita juga perlu melihat sisi terang dari kebijakan pemerintah. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara maupun pemerintah kabupaten/kota terus berupaya mencari jalan keluar.
Skema seleksi PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) yang digalakkan pemerintah pusat disambut baik oleh daerah.
​Gubernur dan para kepala daerah di Sulut secara konsisten mendorong penambahan kuota agar guru-guru senior yang telah mengabdi puluhan tahun mendapatkan status yang lebih layak.
Proses ini memang membutuhkan waktu, birokrasi, dan kekuatan fiskal yang tidak kecil.
​Langkah pemerintah daerah dalam mengalokasikan anggaran untuk insentif guru honorer, meskipun belum ideal, patut diapresiasi sebagai itikad baik untuk menjaga marwah pendidikan tetap tegak.
​Mengapa mereka tetap bertahan?
Jawabannya sederhana: Cinta.
​Bagi seorang guru honorer, kebahagiaan sejati bukanlah saat menerima amplop honor yang tipis, melainkan saat melihat anak didik mereka bisa membaca, berhitung, dan kelak sukses membangun Sulawesi Utara.
Itulah “gaji” yang tidak bisa dihitung oleh sistem akuntansi manapun.
​Tantangan ke depan adalah bagaimana mempercepat sinkronisasi antara dedikasi para guru ini dengan kebijakan kesejahteraan yang lebih mumpuni.
Ini adalah tugas kolektif kita, pemerintah, jurnalis, dan masyarakat.
​Matahari mungkin mulai tenggelam di ufuk Manado, dan “Pak Jo” dalam gambar kita mungkin masih harus memetik gitarnya malam ini.
Namun besok pagi, ia dipastikan akan kembali ke sekolah dengan semangat yang sama. Karena bagi mereka, memutus rantai kebodohan adalah ibadah yang paling nyata. (Catatan redaksi/opini /nes)
