MEDIASULUT.ID – Panitia Festival Seni Budaya Bantik dan Peringatan Ke-77 Gugurnya Pahlawan Nasional Robert Wolter Mongisidi terus mematangkan persiapan kegiatan budaya dan penghormatan sejarah di Kota Manado.
Panitia memperkuat koordinasi bersama Pemerintah Kota Manado setelah memperoleh dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara melalui Sekretaris Provinsi Sulut, Tahlis Gallang.
Audiensi terbaru berlangsung bersama Sekretaris Daerah Kota Manado, Steven P. Dandel, MPH, Selasa 26 Mei 2026.
Pertemuan itu menjadi tindak lanjut kerja sama antara panitia dan Pemkot Manado untuk menyukseskan agenda budaya yang sarat nilai sejarah dan pelestarian budaya Bantik.
Audiensi berlangsung di ruang kerja Sekda Kota Manado. Pertemuan itu dihadiri Riedel Sanny Mongisidi, S.E., M.M, Fanly Pongajouw, S.T, Rinna Moniaga, S.E, serta Hendra Sumual.
Panitia dan pemerintah daerah membahas berbagai kesiapan teknis pelaksanaan festival. Mereka juga membicarakan kolaborasi lintas sektor agar kegiatan berjalan lancar dan menarik perhatian masyarakat luas.
Festival Seni Budaya Bantik Perkuat Pelestarian Budaya Lokal
Panitia berharap festival budaya ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan identitas budaya Bantik kepada generasi muda di Sulawesi Utara.
Kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan hiburan budaya. Panitia juga ingin memperkuat edukasi sejarah perjuangan bangsa melalui sosok Pahlawan Nasional Robert Wolter Mongisidi.
Pertemuan bersama Pemkot Manado menjadi langkah strategis untuk memperkuat sinergi pelaksanaan kegiatan.
Panitia ingin menghadirkan festival yang meriah sekaligus memiliki nilai edukasi dan nasionalisme yang kuat.
Upaya menjaga warisan budaya lokal itu juga sejalan dengan penguatan identitas budaya bantik yang terus mendapat perhatian di Kota Manado.
Dukungan Pemprov Sulut Perkuat Persiapan Acara

Sebelumnya, panitia menggelar rapat bersama Sekretaris Provinsi Sulawesi Utara, Tahlis Gallang, Selasa 19 Mei 2026.
Rapat berlangsung di ruang kerja Sekprov Sulut. Perwakilan Kesbangpol Sulut, Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Kesehatan, serta Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Utara turut menghadiri pertemuan tersebut.
Dari Lembaga Pemangku Adat Bantik Malalayang hadir Ketua Dr Max Edward Tontey, M.Th, Sekretaris Michael Kalonio, S.E, dan Bendahara Riedel Mongisidi, S.E., M.M.
Ketua Harian Lembaga Pemangku Adat Bantik Malalayang, Fanly Pongajouw, S.T, membuka pertemuan dengan memperkenalkan jajaran panitia kepada Sekprov Sulut.
Selanjutnya, Ketua Panitia Albert Mokodongan, S.E bersama Rina Moniaga, S.E dan Nonna Mongisidi memaparkan konsep kegiatan, rangkaian acara, serta kebutuhan pelaksanaan festival budaya dan peringatan kepahlawanan tersebut.
Panitia membahas konsep acara, teknis pelaksanaan, dan kebutuhan anggaran untuk mendukung agenda besar tersebut.
Rencananya, acara puncak berlangsung di halaman Kantor Gubernur Sulawesi Utara.
Panitia juga melibatkan berbagai elemen masyarakat dan tokoh budaya daerah dalam kegiatan tersebut.
Sekprov Sulut, Tahlis Gallang, menyampaikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan festival budaya tersebut.
Menurutnya, peringatan gugurnya Robert Wolter Mongisidi menjadi momentum penting untuk mengenang jasa perjuangan pahlawan asal Suku Bantik.
Ia juga menilai kegiatan itu mampu memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi muda.
“Peringatan ini penting untuk menjaga semangat nasionalisme dan memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat,” ujar Tahlis Gallang dalam pertemuan tersebut.
Penguatan kolaborasi lintas pemerintah juga memperlihatkan pentingnya sinergi pemerintah daerah dalam mendukung pengembangan budaya dan sejarah lokal di Sulawesi Utara.
Peringatan RW Mongisidi Bangkitkan Nasionalisme
Panitia berharap Festival Seni Budaya Bantik dan Peringatan Ke-77 Gugurnya Robert Wolter Mongisidi mampu menjadi agenda budaya tahunan yang memperkuat identitas daerah.
Selain menjaga tradisi budaya, kegiatan tersebut diharapkan membangun rasa cinta tanah air dan penghormatan terhadap jasa pahlawan bangsa.
Panitia juga ingin menghadirkan ruang edukasi sejarah bagi generasi muda melalui rangkaian kegiatan budaya, pertunjukan seni, dan penghormatan terhadap perjuangan Robert Wolter Mongisidi.
Komitmen menjaga budaya lokal itu sejalan dengan berbagai kegiatan pelestarian budaya daerah yang terus berkembang di Kota Manado dan Sulawesi Utara.
Festival ini diharapkan mampu memperkuat persatuan masyarakat sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Bantik kepada publik yang lebih luas.
