MEDIASULUT.ID – Rabu pagi itu cerah. Pukul 10.00 WITA. Di Desa Wioi Dua, Kecamatan Ratahan Timur, kesibukan baru dimulai. Bukan soal panen. Tapi soal masa depan akses warga.
​Nama bangunannya keren: Jembatan Perintis Garuda.
​Kodim 1302/Minahasa turun tangan. Mereka bersinergi. Memastikan agenda pembangunan ini tidak sekadar rencana di atas kertas. Dukungan penuh diberikan sejak langkah pertama.
​Langkah pertama itu adalah pengukuran. Penting sekali. Tanpa ukur yang akurat, fisik jembatan bisa meleset. Edwin Tumbelaka, sang Manager Pelaksana, memimpin langsung di lapangan.
​Ia tidak sendirian. Ada Kalvin Siar sebagai Pengawas Lapangan. Ada juga tim teknis. Termasuk para tukang. Mereka yang bertugas menjaga ketepatan konstruksi.
​Mengapa jembatan ini penting?
​Jawabannya sederhana: urusan ekonomi. Ratahan Timur butuh aksesibilitas yang lebih baik. Mobilitas warga harus lancar. Jika infrastruktur ini rampung, distribusi hasil bumi tentu lebih cepat. Efisien.
​Proses pengukuran kini sudah masuk tahapan penting. Setelah ini, pekerjaan konstruksi fisik akan menyusul. Sesuai rencana yang sudah ditetapkan.
​Pihak Kodim 1302/Minahasa pun menitip pesan. Mereka mengajak semua pihak ikut menyukseskan. Agar pengerjaan selesai tepat waktu.
​Sebab, manfaat maksimal jembatan ini sudah dinanti. Oleh warga Desa Wioi Dua. Juga masyarakat sekitarnya.
​Kalau sudah bersinergi begini, rasanya semua jadi lebih ringan.(nes)
